Menulis berita ekonomi agar mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan bagi wartawan. Tak cuma soal menerjemahkan angka, data, dan jargon-jargon asing hingga menjadi produk berita layak ‘konsumsi’. Dampak dari pemberitaan juga harus mendapat perhatian sejak awal, sebelum berita diterbitkan.
MANA yang lebih prestise, menjadi wartawan desk ekonomi atau wartawan desk politik?
Pertanyaan itu diajukan Mirza Afifah dari Divisi Relasi Media Massa dan Opinion Maker, Departemen Komunikasi Bank Indonesia, kepada peserta Capacity Building Wartawan Ekonomi Bangka Belitung.
Atas pertanyaan itu, dijawab oleh Zakaria, rekan wartawan dari beritacmm.com, yang menegaskan kerja wartawan ekonomi lebih prestise karena memerlukan ekstra konsentrasi.
“Wartawan ekonomi dituntut untuk bagaimana mencerna narasi agar mudah dimengerti. Ada banyak data dan istilah yang sulit dipahami awam,” ujar Zakaria, Selasa, 1 Juli 2025, di acara yang difasilitasi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bangka Belitung.
Jawaban Zakaria ini disepakati oleh Mirza. Dikatakannya, menjadi wartawan ekonomi itu tantangannya berat banget. “Ada data yang harus benar, analisa yang tidak boleh misinterpretasi, kemudian banyak unsur-unsur yang datanya harus digali kebenarannya dulu, tidak boleh asal jeplak,” ujar Mirza.
Tak cuma itu, Mirza mengingatkan menjadi wartawan desk ekonomi juga harus banyak membaca. Bacaannya juga multidimensi, mulai dari ekonomi domestik, global, sampai mempelajari kondisi politik yang dapat menjadi salah satu unsur proyeksi dari suatu indikator ekonomi.
Soal prestise menjadi wartawan ekonomi itu, diamini oleh Umi Kalsum. Wakil Pemimpin Redaksi IDN Times ini dihadirkan Bank Indonesia untuk menjadi narasumber.
Menjadi wartawan ekonomi, kata Umi, setiap harinya dituntut harus selalu belajar. Mulai dari mempelajari data, istilah-istilah, memelototi angka-angka, dan sebagainya. Ditambah dengan keakuratan, keberimbangan, serta penekanan pada pentingnya kredibilitas narasumber. Pengabaian atas hal-hal tersebut, bisa berakibat fatal.
“Artikel ekonomi enggak bisa sembarangan, karena berpengaruhnya langsung ke pasar. Pasar bisa panik, rupiah bisa gonjang-ganjing, dan sebagainya,” ujar wartawan senior di desk ekonomi yang menekuni jurnalistik sejak 1996.
Nah, untuk menulis berita ekonomi menjadi produk berita yang menarik bagi pembaca, Umi berbagi beberapa tips agar berita ekonomi menjadi enak dibaca, dan calon pembaca jadi merasa perlu untuk mengetahui dan memahami isinya. Namun, tentu saja harus disesuaikan dengan target pembaca yang menjadi karakteristik media massa masing-masing.
“Bikin berita yang memberi dampak langsung bagi pembaca,” ujarnya.
Di tempatnya bekerja, IDN Times, yang membidik pembaca kalangan muda, Umi memberi contoh berita ekonomi yang mengulas tentang kenaikan suku bunga. Salah satu contohnya: “Suku bunga naik, apakah gen-Z bisa membeli rumah?”
Umi juga mengingatkan wartawan untuk menggunakan bahasa-bahasa populer, ketimbang jargon-jargon atau istilah-istilah teknis. Misalnya, ketika Bank Indonesia menuliskan BI-rate, wartawan bisa mengubahnya dengan menulis sebagai suku bunga, agar lebih mudah dipahami pembaca.
Berkaitan dengan istilah-istilah teknis itu, Umi mengajak wartawan untuk mulai memperbanyak artikel yang sifatnya evergreen atau tak lekang oleh waktu.
“Untuk menjelaskan jargon-jargon ekonomi ini, bisa kita buat artikel yang explainer,” ujarnya.
Di dalam menulis berita ekonomi, Umi juga berpesan agar menerapkan skala prioritas dengan struktur piramida terbalik, menggunakan grafik dan visualisasi, dan menyertakan konteks dan sumber resmi yang kredibel.
“Tutup juga dengan implikasi dan aksi. Kita bantu pembaca menjawab pertanyaan,” tambahnya.
Hal penting lainnya yang perlu dipedomani wartawan ekonomi, menurut Umi adalah harus mencegah jangan sampai berita jadi misinformasi.
“Pahami konteks, bukan sekadar kutipan. Pahami latar belakang ksbijakan,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan, agar Wartawan Ekonomi Bangka Belitung selepas kegiatan capacity building yang dihadirkan Bank Indonesia di The Westin Hotel, Jakarta, untuk menghindari judul yang sensasional atau spekulatif, dalam menulis berita.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy Sariu Tamawiwy, saat membuka acara, sangat berharap agar kegiatan capacity building bagi wartawan ini dapat membawa kebaikan dan kebermanfaatan.
Rommy juga mengapresiasi narasi optimisme yang dihadirkan wartawan ekonomi di Bangka Belitung ketika provinsi ini di tahun 2024 lalu diterpa peristiwa yang membetot perhatian publik, yang ditandai dengan penegakan hukum di sektor pertimahan yang sekian lama menjadi tulang punggung perekonomian provinsi ini.
Dia mengucapkan terima kasih kepada wartawan ekonomi yang telah menyajikan narasi yang optimis terkait pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung, di tengah dinamika yang begitu menantang.
“Saya berterima kasih buat teman-teman media, narasi yang dibangun sepanjang 2024 itu narasi yang tetap kita jaga dengan narasi yang tetap optimis,” ujar Rommy Sariu Tamawiwy.
Di tempat yang aama, atas materi dan pembelajaran yang disampaikan, Try Hardi wartawan dari Kantor Berita ANTARA, menyampaikan terima kasihnya kepada Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung.
“Alhamdulillah, kita difasilitasi untuk pengembangan kapasitas dalam penulisan berita. Ini kita belajar bisa sambil sejenak berlibur di acara capacity building ini. Terima kasih Bank Indonesia,” kata Try dalam perbincangan dengan penulis di lokasi acara. (*)













