PolitikSerba-serbi

Ketua Komisi XII DPR RI Ingatkan PLTN Bukan Ajang Uji Coba

×

Ketua Komisi XII DPR RI Ingatkan PLTN Bukan Ajang Uji Coba

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, Pangkalpinang – Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengingatkan para pihak yang berambisi membangun PLTN, agar tidak menjadikan Bangka Belitung sebagai ajang uji coba. Jangan sampai Negeri Serumpun Sebalai ini menjadi lahan ‘kelinci percobaan’ bagi entitas yang belum teruji.

Peringatan demikian disampaikan Bambang Patijaya dalam kesempatan buka puasa bersama pimpinan media massa, Selasa, 3 Maret 2026 di Swissbel Hotel, Pangkalpinang.

BPJ menegaskan bahwa aspek keamanan dan kematangan teknologi harus menjadi prioritas utama sebelum proyek strategis tersebut dijalankan.

Legislator asal Bangka Belitung ini menekankan pentingnya penggunaan teknologi yang sudah terbukti atau proven di kancah global.

Dalam pemaparannya, BPJ menyoroti bahwa teknologi berbasis Thorium yang diusung oleh Thorcon saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum teruji secara masif di dunia.

Ia membandingkan hal ini dengan reaktor konvensional berbasis Uranium yang sudah mapan digunakan oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia.

“Kalau memang teknologi Thorium ini adalah yang pertama di dunia, jangan dilakukan di Indonesia, apalagi di Bangka Belitung. Kita harus bicara soal teknologi yang sudah proven. Jangan sampai daerah kita hanya menjadi tempat eksperimen atau laboratorium uji coba,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski secara teoritis dampak kerusakan Thorium diklaim lebih minim dibanding Uranium, realita di lapangan tetap memerlukan bukti konkret.

Sebagai contoh, China pun baru mengembangkan reaktor serupa dalam skala kecil (2 MW) di Gurun Gobi, yang menunjukkan betapa tingginya kehati-hatian negara maju terhadap teknologi ini.

BPJ menjelaskan adanya pergeseran paradigma dalam Kebijakan Energi Nasional. Jika sebelumnya nuklir dianggap sebagai pilihan terakhir, kini posisinya telah sejajar sebagai bagian dari bauran energi nasional.

Bahkan, dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), target 500 MW energi nuklir sudah dipatok hingga tahun 2034.

“Nuklir untuk pembangkit listrik itu sebenarnya sangat aman jika dikelola dengan teknologi yang benar. Secara statistik, tingkat keamanannya bahkan lebih tinggi dibandingkan transportasi pesawat terbang,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, melainkan juga biaya sosial dan kepercayaan masyarakat.

Menurutnya, sosialisasi dari lembaga terkait seperti BAPETEN harus dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan kegaduhan atau resistensi di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, BPJ juga mengaitkan rencana pembangunan ini dengan potensi mineral di Bangka Belitung, khususnya monazite. Mineral ini tidak hanya mengandung bahan radioaktif, tetapi juga Logam Tanah Jarang (LTJ) yang memiliki nilai strategis tinggi.

“Kita punya monazite yang di dalamnya ada Logam Tanah Jarang. Ini harus dikelola dengan manajemen yang tepat antara kepentingan industri mineral dan keamanan energi,” tambahnya.

Mengakhiri pernyataannya, BPJ menekankan bahwa Komisi XII DPR RI akan terus mengawal agar setiap kebijakan energi nasional memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat tanpa mengabaikan faktor keselamatan lingkungan. (*)