Padapada.id, PANGKALPINANG — Pemerintah Kota Pangkalpinang terus menggeber pemanfaatan pangan lokal agar tak sekadar menjadi pelengkap di meja makan, tetapi juga mampu menjadi sumber gizi sekaligus peluang ekonomi masyarakat.
Melalui Dinas Pangan dan Pertanian, Pemkot menggelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal di Aula Dinas Pangan dan Pertanian Kota Pangkalpinang, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini diikuti 30 peserta yang merupakan perwakilan berbagai organisasi kewanitaan di Kota Pangkalpinang, yang terdiri dari TP PKK, Bhayangkari, Persit, Ibu Muda Berkarya, Pengajian Al Hidayah, IWAPI, dan lain-lain.
Pelatihan tersebut menjadi langkah nyata pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi menu sehat, kreatif, dan bernilai jual tinggi.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Pangkalpinang, Hj. Susanti Saparudin, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi tentang pangan sehat dan aman sangat penting, terutama bagi ibu rumah tangga yang menjadi garda terdepan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Semoga kegiatan ini dapat menambah ilmu dan wawasan masyarakat mengenai pengolahan pangan lokal yang sehat, aman, dan bergizi. Jika ada yang tertarik mengembangkan usaha pangan, tentunya bisa terus belajar kepada para ahlinya,” ujar Hj. Susanti.
Mengusung tema “Merawat Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan”, pelatihan ini menitikberatkan pada penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).
Peserta diajak melihat bahwa singkong dan berbagai hasil bumi lokal bukan lagi makanan kelas belakang, melainkan bahan pangan strategis yang bisa diolah menjadi produk modern dengan nilai tambah tinggi.
Tak hanya teori, peserta juga mendapat pelatihan langsung pengolahan pangan lokal agar mampu menciptakan inovasi kuliner yang sehat sekaligus ekonomis.
Pemkot Pangkalpinang berharap gerakan pemanfaatan pangan lokal ini mampu memperkuat kemandirian pangan rumah tangga, mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor, sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis kuliner lokal di tengah masyarakat. (*)













