Hukrim

Di Kebun, Kapolda Mendengar Kritik dan Keluhan Mahasiswa

×

Di Kebun, Kapolda Mendengar Kritik dan Keluhan Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, PANGKALPINANG — Kebun biasanya menjadi tempat orang bekerja, bercocok tanam, atau sekadar mencari udara segar. Namun, pada Selasa, 15 September 2026, Kebon Atok Kulop di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, punya kesibukan lain. Di sana, soal agraria, pertambangan, bahan bakar minyak bersubsidi, hingga pendidikan diperbincangkan.

Di kebun milik budayawan Ahmadi Sofyan itu, Kapolda Kepulauan Bangka Belitung Inspektur Jenderal Viktor Theodorus Sihombing duduk bersama mahasiswa dan aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa se-Bangka Belitung.

Tak ada meja panjang. Tak ada mikrofon yang berderet. Suasananya pun jauh dari rapat resmi. Tapi yang dibicarakan bukan obrolan ringan. Agraria, tambang, BBM bersubsidi, pendidikan, kesehatan, sampai kekerasan terhadap perempuan dan anak masuk ke dalam percakapan.

Mahasiswa datang bukan sekadar untuk mendengar polisi berbicara tentang keamanan dan ketertiban. Mereka membawa daftar keresahan dari luar pagar kantor kepolisian. Sebagian bahkan berupa kritik terhadap polisi sendiri.

Viktor tampaknya tidak keberatan. Malah kritik itulah yang ia katakan ingin didengar.

“Yang jelas mahasiswa itu memperjuangkan apa yang ada di dalam masyarakat. Jadi banyak problem sekarang yang ada di masyarakat yang mungkin perlu diketahui oleh Polda, sekaligus juga mengkritisi tentang kegiatan yang sudah kita lakukan dan menyampaikan harapan-harapan Polda nanti harusnya sebaiknya seperti apa,” kata Viktor.

Bagi jenderal polisi dengan dua bintang itu, mahasiswa mempunyai posisi yang cukup dekat pada persoalan masyarakat. Karena itu, kritik mereka dapat menjadi semacam cermin bagi kepolisian untuk melihat pekerjaannya sendiri.

Masukan itu, kata dia, akan disampaikan kepada jajaran Polda. Terutama yang menyangkut pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penegakan hukum, serta perlindungan, pelayanan, dan pengayoman kepada masyarakat.

“Event ini harus menjadi ruang bersama bagi kita dan nanti saya akan sampaikan juga kepada seluruh anggota agar masukan-masukan ini bisa kita laksanakan sesuai dengan harapan mereka terutama dalam hal memelihara kamtibmas, penegakkan hukum dan juga memberikan perlindungan, pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat,” ujarnya.

Viktor menyebut mahasiswa sebagai agen perubahan dan pembangunan. Istilah yang sudah lama akrab dalam pidato-pidato pejabat itu kali ini dibarengi dengan janji membuka pintu bagi kritik.

“Mudah-mudahan niat baik kita ini berbuah hasil, mahasiswa juga sebagai agen perubahan dan pembangunan bisa terus terjaga. Kami dari Kepolisian tidak menutup diri untuk masukan-masukan serta kritikan dari kawan-kawan mahasiswa. Kami yakin, dengan keterbatasan ini perlu ada daya upaya dorongan untuk kami lebih baik,” kata dia.

Mahasiswa rupanya tidak ingin forum itu berhenti sebagai pertemuan sehari di kebun.

Koordinator Daerah BEM Bangka Belitung Bintang Pratama mengatakan dialog tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan kritik secara langsung. Ia berharap pertemuan serupa terus dilakukan.

“Kami berharap untuk diskusi ini terus berlanjut dan ke depannya masih ada terus, jangan cuma untuk hari ini saja. Karena kami butuh barisan dari Polda untuk mendukung kami sebagai aliansi BEM Babel se-Bangka Belitung,” ujar Bintang.

Keresahan yang dibawa mahasiswa cukup beragam. Agraria dan pertambangan, misalnya. Ada pula soal kesehatan serta kekerasan terhadap perempuan dan anak. BBM bersubsidi dan pendidikan ikut masuk dalam daftar.

Bintang berharap semua itu tidak berakhir sebagai catatan yang menguap setelah acara bubar. Polda diminta meneruskan aspirasi tersebut kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan instansi yang berkaitan.

“Harapannya masukan kita ditindaklanjuti oleh Polda dan diteruskan ke Forkopimda. Kami juga berharap aspirasi kami tidak hanya sampai di sini, tidak hanya hari ini tapi bisa dibawa sampai ke pihak yang terkait,” kata Bintang.

Di Kebon Atok Kulop, polisi akhirnya mendengar mahasiswa tanpa pagar birokrasi yang biasanya memisahkan keduanya. Persoalannya kini bukan lagi apakah kritik itu sudah disampaikan.

Yang lebih penting, setelah kembali ke kantor, apakah kritik dari kebun itu masih terdengar. (*)