Padapada.id, BANGKA — Menjaga jaringan, membina kader, dan membaca persoalan dunia. Tiga hal itu menjadi pesan Anggota DPR RI Bambang Patijaya kepada pemuda Buddhis dalam Musyawarah Daerah VII Gemabudhi Bangka Belitung, Sabtu, 19 September 2026, di Puri Tri Agung, Sungailiat.
Bambang Patijaya yang juga dikenal sebagai tokoh pemuda Buddhis, mengatakan membangun jaringan bukan pekerjaan sekali jadi. Pengalaman selama dua dekade berorganisasi mengajarkannya bahwa hubungan yang telah dibangun justru harus dirawat dengan kesabaran dan konsistensi.
“Apa yang saya pelajari 20 tahun yang lalu adalah bagaimana membina, membuat suatu hubungan dengan jaringan. Kita bangun jaringan itu yang paling sulit,” kata dia.
Menurut legislator asal Dapil Bangka Belitung ini, konsistensi menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Sebab, kerja organisasi tidak berhenti pada kepentingan daerah, tetapi dapat berkembang hingga tingkat nasional.
“Yang penting kita konsisten. Pola kepemimpinan itu bukan hanya berdampak kepada daerah, tetapi juga kepada nasional,” ujarnya.
Pesan berikutnya ia tujukan kepada para senior Gemabudhi dalam membina kader muda. Bambang meminta kader yang telah mengikuti Latihan Kepemimpinan Nasional (Latnas) tidak dibiarkan berjalan sendiri setelah menyelesaikan pelatihan.
Selama tiga hari, para kader dibekali materi kepemimpinan, keorganisasian, kebijakan politik, lingkungan hidup, hingga ketahanan pangan. Menurut Bambang, pembekalan tersebut akan kehilangan makna jika tidak dilanjutkan dengan pendampingan di lapangan.
“Jangan dilepas. Ini harus dibimbing, di-backup. Karena kenapa? Percayalah, mungkin yang sekarang bisa dia lakukan duduk, tetapi dia butuh bimbingan untuk berlari,” kata dia.
Bambang Patijaya kemudian menggunakan perumpamaan sederhana untuk menggambarkan pentingnya pendampingan kader.
“Duduk dan berdiri sudah bisa, tetapi untuk berlari dia harus diajak,” ujarnya.
Dari ruang organisasi, Bambang membawa pembicaraan ke persoalan yang lebih luas, yakni perubahan iklim. Dipercaya partainya untuk duduk di Komisi XII DPR RI, ia mengatakan pemuda perlu memiliki wawasan yang tidak berhenti pada persoalan organisasi, tetapi juga menyentuh isu global.
Ia menyoroti kenaikan suhu bumi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Menurut Bambang, perubahan iklim telah meningkatkan ancaman bencana dan menjadi persoalan yang tidak bisa lagi dipandang sebagai isu lingkungan semata.
Di tingkat kebijakan, DPR RI tengah membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Iklim. Regulasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kebijakan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus mendukung target pencapaian Net Zero Emissions pada 2060.
Bagi Bambang, keterlibatan generasi muda dalam persoalan tersebut penting. Organisasi kepemudaan, kata dia, tidak cukup hanya melahirkan kader yang mampu menjalankan organisasi, tetapi juga perlu membentuk generasi yang mampu membaca perubahan dan merespons persoalan yang melampaui batas daerah. (*)













