Padapada.id, PANGKALPINANG — Selat Hormuz tak begitu luas. Tapi cukup sempit untuk menyandera dunia. Begitu jalur air itu tersumbat oleh ketegangan di Timur Tengah, dunia pun tersedak. Indonesia, ribuan kilometer dari sana, ikut terbatuk-batuk menghitung ulang anggaran negara.
Di depan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Senin, 21 September 2026, Bambang Patijaya, anggota DPR RI dari Komisi XII, mencoba menjelaskan duduk perkaranya dengan bahasa yang sederhana, meski persoalannya sama sekali tidak sederhana.
Setiap hari, katanya, sekitar 21 juta barel minyak
melintasi Selat Hormuz, kira-kira sepertiga dari seluruh minyak yang dikonsumsi dunia. Begitu jalur itu tersumbat, negara-negara pun berebut pasokan seperti orang berebut air di musim kemarau. Harga naik. Dan Indonesia, yang dalam APBN 2026 mematok Indonesian Crude Price sebesar 70 dolar per barel, ikut terkena imbasnya.
“Di dalam APBN 2026, ICP kita memuat angka 70 dolar. Menurut hitungan kita, setiap kenaikan 1 dolar dari harga minyak dunia melampaui itu akan menambah beban daripada APBN sekitar 6,3 triliun,” kata Bambang Patijaya.
Namun di tengah tekanan itu, ada satu hal yang menurut Bambang tak boleh goyah, harga bahan bakar minyak bersubsidi. Solar dan Pertalite, dua nama yang akrab di telinga rakyat kecil, katanya, akan tetap dijaga.
“Sampai hari ini, suka tidak suka, BBM subsidi baik itu yang namanya Solar maupun Pertalite harganya tidak berubah dan suplainya tidak terganggu,” ujarnya, tegas.
Legislator asal Daerah Pemilihan Bangka Belitung ini, lantas meluruskan apa yang sering disalahpahami orang ramai. Tentang BBM bersubsidi dan non-subsidi. Tugas negara, ujarnya, adalah menjaga BBM bagi mereka yang tak mampu. Adapun BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dex, biarlah mengalir mengikuti arus pasar, naik-turun sesuai hukum dagang yang berlaku di mana-mana.
Ia lalu menoleh jauh ke utara, ke negeri-negeri Skandinavia — Finlandia, Swedia, Denmark — tempat subsidi tidak diberikan kepada barang, melainkan kepada manusia.
“Di negara-negara maju yang ada di Skandinavia, yang disubsidi oleh negara itu bukan barangnya, tetapi orangnya. Semua barang, mau bensin atau bahan pokok, harganya harga pasar, tetapi bagi warga yang tidak mampu, orangnya yang diberikan subsidi oleh negara,” tuturnya.
Dan di tengah gejolak dunia yang tak menentu ini, Indonesia pun mengambil langkah yang tak biasa, mencari minyak dari berbagai penjuru, termasuk dari Rusia, negeri yang masih dibayangi sanksi dari Barat. Sebuah taruhan, barangkali, demi menjaga mesin tetap menyala di kendaraan-kendaraan rakyat. (*)













