Padapada.id, Pangkalpinang – Lebih dari 80 persen ekspor Bangka Belitung masih bertumpu pada satu komoditas, timah. Ketergantungan itu yang hendak dikikis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada 30 September dan 1 Oktober 2026, mereka menggelar Capacity Building UMKM Potensial Ekspor di Jakarta.
Pesertanya pelaku UMKM yang sudah atau berpotensi mengekspor. Bank Indonesia menggandeng Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Bea Cukai Pangkalpinang. Jalurnya dibuat berlapis, pengembangan usaha, legalitas dan standardisasi, hingga akses pasar.
Di luar timah, Bangka Belitung punya lada putih, produk perikanan dan kelautan, serta aneka pangan olahan. Potensi itu dinilai belum tergarap sebagai sumber pertumbuhan baru.
Kepala Perwakilan BI Babel, Rommy S. Tamawiwy, menyebut produk bagus saja tidak cukup. “Pasar ekspor tidak hanya membutuhkan produk yang baik, tetapi juga kesiapan bisnis yang kuat dan berkelanjutan,” kata Rommy, dalam keterangannya, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurut dia, pelaku usaha mesti paham karakter pasar tujuan, mengantongi sertifikasi, menghitung harga dan ongkos logistik dengan cermat, membangun relasi dengan pembeli, dan memastikan kontrak dagang menguntungkan semua pihak.
Untuk itu, BI menghadirkan Akademi Mudah Ekspor. Materinya menyasar titik yang kerap membuat UMKM tersandung: penentuan harga ekspor dan biaya logistik, kehadiran digital, strategi mencari pembeli lewat kanal daring, negosiasi dan kontrak dagang, serta penyusunan strategi berbasis studi kasus. Teori dipadukan dengan praktik. Targetnya, peserta tak sekadar tahu urusan administrasi ekspor, tetapi bisa menyusun strategi masuk pasar yang terukur dan mampu memitigasi risiko.
Pembelajaran berlanjut ke lapangan. Peserta mengunjungi dua UMKM binaan BI DKI Jakarta. Kultiva Co. menunjukkan bagaimana bahan baku lokal diolah menjadi pangan olahan yang tembus ekspor lewat inovasi, standardisasi, mutu yang konsisten, dan kemasan yang disesuaikan dengan pasar tujuan. Minang Kakao menunjukkan pendekatan farm-to-bar, dari biji kakao sampai cokelat bernilai tambah, dengan identitas lokal sebagai pembeda.
Bank Indonesia menyatakan tak akan berhenti di sini. Bersama pemerintah daerah dan mitra strategis, BI Babel berencana melanjutkan pendampingan, peningkatan kualitas dan nilai tambah produk, penguatan legalitas dan standardisasi, perluasan akses pasar, dan jejaring bisnis. Tujuannya, produk non-timah kian besar menyumbang perekonomian Bangka Belitung dan UMKM-nya terhubung dengan rantai nilai nasional maupun global. (*)













