Serba-serbi

Santri dan Proletar Bersatu: Harapan Baru dari Basit Cinda dan Dede Purnama Alzulami untuk Pangkalpinang

×

Santri dan Proletar Bersatu: Harapan Baru dari Basit Cinda dan Dede Purnama Alzulami untuk Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mang Qibol

DI TENGAH gemuruh politik praktis yang kerap dikuasai elite dan oligarki lokal, Pilwako Pangkalpinang tahun ini membawa satu warna yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik kota ini, hadir dua sosok dari akar rumput yang kini maju sebagai calon pemimpin: Basit Cinda dan Dede Purnama Alzulami. Kehadiran mereka menjadi kabar baik bagi rakyat kecil, kaum tertindas, dan masyarakat religius yang selama ini hanya menjadi penonton dalam panggung kekuasaan.

Basit Cinda bukan politisi karbitan. Ia pernah hidup dari mengais sampah dan menjadi saksi kerasnya hidup di lorong-lorong kemiskinan Pangkalpinang. Namun hidup tidak membuatnya tunduk. Ia bangkit dengan kerja keras, pendidikan, dan pengabdian sosial yang tak pernah mengenal lelah. Basit adalah wajah harapan baru, bahwa seorang pemulung bisa berubah menjadi pemimpin jika diberi kesempatan dan dukungan rakyat.

Sementara itu, Dede Purnama Alzulami, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Ustadz Dede, adalah representasi dari kekuatan moral dan spiritual. Santri yang rendah hati, pendidik yang mencerahkan, dan tokoh yang tak haus panggung. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, membentuk karakter dan integritasnya dalam nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dede bukan hanya figur religius, tapi juga pemikir yang percaya bahwa perubahan sejati lahir dari pendidikan dan keteladanan.

Aliansi Basit dan Dede adalah simbol bersatunya dua kekuatan besar yang selama ini terpinggirkan; kaum santri dan proletar. Jika pada masa lalu keduanya hanya menjadi obyek janji-janji politik, kini mereka menjadi subyek perubahan. Ini bukan hanya soal kontestasi pilwako, tapi juga momentum perlawanan terhadap dominasi oligarki, politik dinasti, dan hegemoni ekonomi-politik yang selama ini membelenggu Pangkalpinang.

Pilihan rakyat kepada mereka bukan semata karena program, tapi karena ketulusan. Karena keduanya adalah bagian dari masyarakat bawah yang tahu betul arti kesusahan, tahu bagaimana rasanya mengantri beras murah, ditolak di rumah sakit karena tak punya BPJS, atau dihina karena pendidikan rendah. Mereka hadir bukan untuk menjual janji, tapi untuk membuktikan bahwa harapan bisa diperjuangkan.

Kemenangan Basit dan Dede — jika terjadi — adalah kemenangan moral. Kemenangan rakyat. Kemenangan akal sehat. Pangkalpinang akan dipimpin oleh mereka yang merasakan denyut nadi rakyat setiap hari, bukan oleh mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai warisan atau alat dagang.

Kini, tugas kita semua adalah memastikan mereka tak berjalan sendiri. Rakyat Pangkalpinang harus menyambut momentum ini dengan semangat perubahan. Sebab hanya dengan membebaskan diri dari lingkaran oligarki dan dominasi elite lama, kota ini bisa benar-benar menjadi panggung kemajuan yang adil dan bermartabat.

Basit Cinda dan Ustadz Dede bukan hanya calon. Mereka adalah simbol. Mereka adalah bukti bahwa santri dan kaum pekerja bisa memimpin, bukan sekadar mengikuti. Dan mungkin, inilah saatnya Pangkalpinang menulis sejarah baru. (*)