Serba-serbi

Jurnalis Dilatih Menghadapi Medan Konflik, dari Membaca Ancaman hingga Bertahan di Lapangan

×

Jurnalis Dilatih Menghadapi Medan Konflik, dari Membaca Ancaman hingga Bertahan di Lapangan

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, JAKARTA — Di wilayah konflik, informasi kerap muncul dari ruang yang penuh risiko dan ketidakpastian. Bagi jurnalis, tantangan tidak berhenti pada upaya menemukan fakta, tetapi juga menjaga keselamatan saat bekerja di tengah ancaman.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau) bersama Brigade Parako 1 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) menggelar Workshop Liputan di Daerah Konflik di Markas Brigade Parako 1 Pasgat, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Pelatihan yang berlangsung Kamis-Jumat, 11-12 Juni 2026, itu diikuti 30 wartawan dari sejumlah media massa. Kegiatan dibuka Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI I Nyoman Suadnyana dengan tema “Sinergi TNI AU dan Media Massa Tingkatkan Kompetensi Jurnalis dalam Menghadapi Tugas di Daerah Konflik”.

Dalam pelatihan tersebut, para jurnalis dikenalkan pada berbagai situasi yang mungkin terjadi ketika meliput wilayah rawan, termasuk kawasan operasi militer.

Personel Brigade Parako 1 Pasgat memberikan materi tentang prosedur keselamatan, pemetaan ancaman, teknik bergerak di medan berisiko, hingga pengambilan keputusan ketika menghadapi keadaan darurat.

Simulasi dirancang menyerupai kondisi lapangan. Peserta mengikuti latihan pertempuran jarak dekat, patroli kawasan hutan, serta skenario peliputan di tengah situasi konflik.

Dalam latihan itu, wartawan juga dilatih membangun koordinasi dengan aparat keamanan dan menentukan langkah ketika berada dalam tekanan.

Selain praktik lapangan, peserta memperoleh materi psikologi medan konflik serta pengenalan kemampuan dasar militer melalui teori dan praktik menembak. Materi tersebut diberikan untuk memahami karakter wilayah operasi dengan tingkat bahaya tinggi.

Dispenau berharap pelatihan itu dapat meningkatkan kesiapan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik di daerah konflik. Pemahaman terhadap keselamatan dinilai penting agar proses peliputan tetap berjalan dengan menjunjung akurasi, independensi, dan profesionalitas. (*)