Padapada.id, PANGKALPINANG — Api belum menjadi perkara besar di Pangkalpinang. Setidaknya untuk sekarang. Titik panas dan titik api di kota itu disebut telah berkurang dibandingkan bulan lalu. Tetapi musim kering belum selesai. Dan El Nino masih menjadi nama yang patut diperhitungkan.
Pemerintah Kota Pangkalpinang memilih bersiap sebelum api membesar. Senin, 14 September 2026, Tim Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Markas Besar Tentara Nasional Indonesia datang ke kantor wali kota. Mereka tidak datang hanya untuk membicarakan cara memadamkan api, melainkan bagaimana api jangan sampai muncul.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi, yang hadir mewakili wali kota, mengatakan kedatangan tim Mabes TNI merupakan kelanjutan dari koordinasi lintas sektor yang dilakukan pemerintah kota sepekan sebelumnya. TNI, Polri, swasta, dan masyarakat dilibatkan dalam upaya itu.
“Kami mengapresiasi kedatangan tim dari Mabes TNI yang membantu pencegahan dan penanganan karhutla di Pangkalpinang,” kata Agustu dalam pemaparan Penanggulangan Karhutla Wilayah Kota Pangkalpinang di Gedung SRC, Kantor Wali Kota Pangkalpinang.
Menurut Agustu, hasilnya mulai terlihat. Jumlah hotspot dan titik api menurun dibandingkan Agustus. “Kalau sebelumnya di bulan Agustus memang banyak, sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang, tinggal beberapa titik lagi,” ujarnya.
Namun kebakaran bukan satu-satunya urusan yang dibawa musim kering. Air pun menjadi masalah. Sejumlah kawasan di Pangkalpinang mulai merasakan dampak kekeringan. Pemerintah kota kemudian mengirimkan air bersih ke beberapa lokasi.
“Di samping tindakan pemadaman api di lahan yang terbakar, kami juga sudah mendistribusikan air bersih di beberapa titik kepada masyarakat,” kata Agustu.
Mabes TNI melihat persoalan karhutla dari sisi yang sedikit berbeda. Kolonel Marinir Inggit Dahana Setyawan, Ketua Tim Satgas Penyuluhan Penanggulangan Karhutla Mabes TNI, mengatakan kebiasaan menunggu api menyala lalu memadamkannya sudah semestinya ditinggalkan.
Pencegahan, menurut Inggit, jauh lebih masuk akal. “Lebih baik tidak ada timbul api daripada kita menanggulangi,” katanya.
Musim kemarau tahun ini memiliki lawan tambahan: El Nino. Musim kering dapat berlangsung lebih panjang. Tanah dan vegetasi mengering. Sedikit api dapat menjadi persoalan yang lebih besar.
Karena itu, tim Mabes TNI meminta pemerintah daerah dan unsur terkait memperbesar porsi pencegahan dan mitigasi. Pemadaman tetap diperlukan, tetapi bukan satu-satunya jawaban.
Sebab, ketika api sudah membesar, ongkosnya ikut membesar. Personel harus digerakkan, peralatan dikerahkan, dan waktu pun tersita. “Memadamkan atau menanggulangi ini membutuhkan cost yang besar karena harus memobilisasi sarana dan prasarana. Dengan mencegah, itu akan jauh lebih baik,” ujar Inggit.
Di Pangkalpinang, untuk sementara api memang tinggal beberapa titik. Tetapi musim kemarau belum memberi tanda akan berkompromi. Karena itu, pemerintah memilih mengurus api sebelum ia menjadi berita besar. (*)













