Padapada.id, PANGKALPINANG — Jalanan Pangkalpinang mendadak penuh warna. Ribuan anak usia dini berarak dengan kostum beraneka rupa dalam Pawai dan Karnaval TK/PAUD se-Kota Pangkalpinang, pada Selasa, 15 September 2026. Mereka bukan hanya sedang berpawai. Pemerintah Kota Pangkalpinang menjadikan keramaian itu sebagai cara mengenalkan karakter dan kebudayaan sejak anak masih belia.
Sebanyak 94 satuan pendidikan mengikuti kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang untuk memperingati Hari Jadi Kota Pangkalpinang. Jumlah peserta diperkirakan lebih dari 4.800 anak.
Pawai dimulai dari halaman Rumah Dinas Wali Kota Pangkalpinang dan berakhir di Taman Wilhelmina. Guru dan orang tua mendampingi anak-anak sepanjang rute. Sejumlah pejabat turut hadir dalam pembukaan, antara lain Bunda PAUD Kota Pangkalpinang Susanti Saparudin, Kapolresta Pangkalpinang, Ketua Dharma Wanita Kota Pangkalpinang, Bunda PAUD tingkat kecamatan, serta perwakilan perbankan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Darwin, mengatakan karnaval tersebut dirancang lebih dari sekadar hiburan. Kegiatan itu menjadi salah satu medium pendidikan karakter bagi anak usia dini.
Pendidikan, kata Darwin, kini tidak semata mengejar kemampuan kognitif. Ada karakter dan kebudayaan yang perlu ditanamkan bersamaan.
“Sekarang di Kemendikbudristek kita lebih ke penguatan karakter. Jadi selain kognitifnya, juga budayanya. Dan Dinas Pendidikan dalam hal ini lebih menonjolkan kebudayaan,” ujar Darwin.
Karakter, menurut dia, tidak bisa ditanamkan ketika anak sudah besar. Pendidikan usia dini justru menjadi tempat pertama untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut.
“Mulai dari anak PAUD, pendidikan anak usia dini, ya semenjak inilah kita tanamkan karakter dan budaya,” katanya.
Karnaval juga menjadi ruang untuk melatih kepedulian sosial dan memberi kesempatan kepada anak menunjukkan bakatnya. Mereka belajar tampil di depan orang lain sekaligus mengenal lingkungan di sekitarnya.
“Harapan kegiatan ini tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka menggerakkan anak-anak kita agar peduli dengan keadaan sekitar, juga untuk menunjukkan bahwa mereka punya potensi dan kompetensi,” ujar Darwin.
Keramaian itu membawa dampak lain. Ribuan anak yang datang bersama guru, orang tua, dan masyarakat membuat kawasan sepanjang rute pawai ikut bergeliat. Jumlah orang yang hadir diperkirakan mencapai 10 ribu. Pedagang dan pelaku UMKM mendapat limpahan pembeli dari kerumunan tersebut. (*)













