Padapada.id, Pangkalpinang – Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada di rentang 3,9 persen hingga 4,7 persen pada tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh tren pertumbuhan ekonomi Negeri Serumpun Sebalai yang cenderung berkinerja positif.
Dalam pemaparan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 yang berlangsung Jumat malam, 28 November 2025, Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Babel, Benny Okta Tutuarima mengatakan tren pertumbuhan positif ini terjadi dari sejak awal tahun 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Benny mengatakan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan III 2025 tumbuh 3,22 persen. “Ini lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 yang hanya tumbuh 0,13 persen,” ujarnya.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha perdagangan, informasi dan komunikasi, serta lapangan usaha pertanian.
Secara historis, sektor perdagangan dan pertanian cenderung mendominasi
struktur perekonomian Babel dalam satu dasawarsa terakhir ini.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 ditopang oleh kinerja konsumsi rumah tangga.
“Ini secara historis konsumsi rumah tangga, serta ekspor dan investasi menjadi penopang ekonomi abangka Belitung dalam sepuluh rahun terakhir,” kata Benny.
Ekspor Bangka Belitung juga terus mengalami perbaikan, yang didorong oleh komoditas unggulan seperti timah, CPO, dan hasil perikanan.
Dengan optimisme terhadap ekonomi ke depan, Benny menekankan pentingnya optimalisasi sumber daya lokal dan sinergi antar bidang yang lebih kuat, sehingga kinerja ekspor dapat diperluas, melalui ruang investasi, penciptaan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menutup tahun 2025 ini, pertumbuhan ekonomi Babel diproyeksikan sekitar 3,5 persen hingga 4,3 persen year on year (yoy).
“Dan akan tumbuh lebih tinggi di tahun 2026 di rentang 3,9 hingga 4,3 persen,” ujar Benny.
Untuk menjaga dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung, Bank Indonesia menekankan pada pentingnya sinergi dan penguatan pada empat fokus.
Pertama, mempercepat transformasi sektor riil untuk meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Kedua, mendorong hilirisasi sektor-sektor berkelanjutan, termasuk sumber-sumber pembiayaan dan investasi untuk mendorong sektor-sektor unggulan sesuai dengan asta cita.
Ketiga, memperkuat ekonomi dan perbankan syariah untuk inklusi ekonomi, termasuk pengembangan pariwisata berkualitas.
Keempat, mempercepat akselerasi digitalisasi di daerah. (*)













