Padapada.id, PANGKALPINANG — Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menegaskan hilirisasi nikel dan pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berpotensi menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kursus Kepemimpinan Lanjut (KKL) 2026 yang digelar Pemuda Katolik, Jumat (15/5/2026).
Menurut Bambang, Indonesia saat ini tidak lagi cukup hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Momentum hilirisasi harus dimanfaatkan untuk membangun industri bernilai tambah tinggi, terutama di sektor baterai dan kendaraan listrik.
Ia mengungkapkan, pembangunan pabrik baterai hasil kerja sama Indonesia Battery Corporation dengan CATL di Karawang menjadi langkah strategis menuju cita-cita tersebut.
“Kalau pabrik ini selesai dan sudah full capacity, produksinya bisa mencapai 6,9 GWh atau setara baterai untuk sekitar 100 ribu mobil EV,” ujarnya.
Bambang menilai kekuatan utama Indonesia ada pada cadangan nikelnya yang menjadi bahan baku penting baterai berbasis nikel. Jika dikelola serius dengan dukungan teknologi dan investasi, Indonesia dinilai punya peluang besar menjadi pusat industri kendaraan listrik di kawasan.
“Jangan berhenti di produksi baterai. Setelah itu akan lahir ekosistem electric vehicle yang lebih besar. Sangat mungkin tahun 2028 atau 2029 Indonesia sudah memiliki pabrik mobil EV sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, tanda-tanda pergeseran industri otomotif global ke Indonesia mulai terlihat. Sejumlah produsen besar telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor, termasuk Toyota lewat produksi Toyota Innova Zenix.
Dalam paparannya, Bambang juga menyoroti dominasi China dalam pengembangan kendaraan listrik dunia. Sementara di Amerika Serikat, pasar EV disebut masih sangat bergantung pada Tesla milik Elon Musk.
Meski optimistis, Bambang mengingatkan hilirisasi tidak boleh hanya menghadirkan pabrik dan investasi, tetapi juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi kultur industri modern yang menuntut disiplin, keterampilan, dan produktivitas tinggi.
“Masih ada pekerja lokal yang belum memenuhi standar pengalaman maupun keterampilan yang dibutuhkan industri. Bahkan ada daerah yang belum terbiasa dengan kultur kerja industri,” ujarnya.
Karena itu, Bambang meminta generasi muda, termasuk kader Pemuda Katolik, ikut memahami arah pembangunan nasional dan tidak mudah terjebak informasi yang menyesatkan terkait hilirisasi maupun investasi industri.
“Pemuda harus hadir memberi pemikiran sekaligus menjadi penyampai informasi yang benar di tengah masyarakat,” katanya. (*)













