Padapada.id, JAKARTA — Peluang ekspor terbuka bagi sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah asal Kepulauan Bangka Belitung setelah mengikuti Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta. Billiton Spice, misalnya, bertemu calon pembeli dari Singapura dan Pakistan dalam business matching yang digelar dalam rangkaian festival ekonomi dan keuangan syariah tersebut.
Bagi UMKM Bangka Belitung, pertemuan itu bukan sekadar transaksi di ruang pamer. Ia menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar produk daerah ke luar negeri.
“Berbagai peluang dan kolaborasi yang terbangun selama ISEF 2026 diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi kegiatan ekonomi produktif yang berdampak nyata bagi masyarakat Bangka Belitung,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, dalam keterangan tertulis, Senin, 19 Oktober 2026.
ISEF ke-13 ditutup di Jakarta International Convention Center pada Ahad, 18 Oktober 2026. Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung membawa sejumlah UMKM binaannya ke ajang tersebut. Mereka bergerak di sektor makanan halal, fesyen modest, dan produk halal.
Cokelat CandU, Morenji, dan Billiton Spice tampil di sektor halal food. Sepiak Belitong membawa produk modest fashion. Sedangkan Adena, Billiton Spice, Madu RR1669, Kritcu Super Sindi, dan Wijaya Crab masuk dalam Halal Mart.
Transaksi UMKM Babel selama festival tercatat lebih dari Rp130 juta. Namun, bagi Bank Indonesia, nilai transaksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Akses pasar dan pertemuan dengan calon mitra bisnis menjadi peluang yang lebih panjang.
Peluang serupa diperoleh Sepiak Belitong. UMKM binaan KPwBI Babel itu mengikuti fashion show, bazar, dan business matching wastra dalam Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST), yang berkolaborasi dengan Jakarta Modest Fashion Week.
Dari kegiatan itu, Sepiak Belitong membuka peluang kerja sama dengan calon pembeli asal Australia. Produk fesyen khas Bangka Belitung pun mendapat kesempatan untuk diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
Di luar urusan perdagangan, KPwBI Babel membawa inovasi di sektor keuangan sosial syariah. Salah satunya Wakaf Waste Box (WWB), program wakaf produktif hijau yang dikembangkan bersama WakafMU Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Program tersebut diperkenalkan melalui booth Wakafein dan menghimpun wakaf lebih dari Rp58 juta. Ke depan, WWB direncanakan diterapkan di sekolah-sekolah. Kotak wakaf itu sekaligus menjadi sarana mengenalkan pengelolaan sampah dan wakaf kepada siswa sejak dini.
“Wakaf produktif diharapkan semakin dekat dengan masyarakat serta memberikan manfaat nyata yang berkelanjutan, baik dari sisi sosial, pendidikan, maupun lingkungan,” ujar Rommy.
Ekosistem ekonomi syariah Babel juga diperkuat dari lingkungan pesantren. Perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pondok Pesantren (DPW HEBITREN) Kepulauan Bangka Belitung mengikuti Forum Bisnis Pesantren. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha pesantren dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman dan menjajaki kerja sama.
Secara nasional, ISEF 2026 mencatat penjualan produk makanan halal dan fesyen Rp13,85 miliar. Nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp3,16 triliun. Adapun komitmen kerja sama pasar uang dan pasar valuta asing syariah mencapai Rp6,05 triliun.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M. Juhro mengatakan pengembangan ekonomi syariah harus berujung pada manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Fokus pengembangan ke depan mencakup integrasi rantai nilai halal, perluasan pembiayaan syariah, sinergi keuangan komersial dan sosial syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi berbasis digital.
Rommy mengatakan Bank Indonesia akan melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan syariah, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Melalui semangat ‘Kebaikan untuk Semua’, berbagai peluang dan kolaborasi yang terbangun selama ISEF 2026 diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi kegiatan ekonomi produktif yang berdampak nyata bagi masyarakat Bangka Belitung,” kata dia. (*)













