Padapada.id, Pangkalpinang – Pasangan Erzaldi-Yuri diminta menerima dengan lapang dada, atas fakta kekalahan dari Hidayat Arsani atau biasa disapa Panglima yang berpasangan dengan Hellyana, di Pilkada Babel 2024. Walaupun masih ada niat dari tim pemenangannya yang terkesan masih ngotot tak terima atas kekalahan ini.
Sebelumnya, dalam keterangan tertulisnya, tim Erzaldi-Yuri atau BERAMAL menuduh adanya kecurangan dalam pelaksanaan pemungutan suara sehingga menyebabkan salah satu pasangan calon dirugikan.
Hal ini, didasari BERAMAL pada jumlah surat suara yang tidak sah yang disebutkan mereka sebesar 61.856 lembar surat suara. Tim Erzaldi menuduh ada indikasi dugaan manipulasi.
“Atas selisih perolehan suara tersebut kemudian Tim Pemenangan melakukan evaluasi dan konsolidasi kepada seluruh struktur tim pemenangan yang berada di Kab/Kota,” kata Muhammad Irham, selaku ketua Tim Pemenangan Paslon BERAMAL dalam keterangannya, Kamis, 28 November 2024, dikutip dari danmedia.co.
Iwan Prahara selaku Koordinator Tim Hukum pasangan Hidayat-Hellyana mengaku geli dengan tuduhan yang dilontarkan timses Erzaldi yang menyatakan banyaknya suara yang hilang, itu.
Iwan pun bertanya bagaimana caranya menghilangkan suara yang ada. “Saya kira mungkin yang bisa menghilangkan suara hanya tukang sulap dan pasukan jin, padahal setahu saya pemilu ini tidak melibatkan tukang sulap dan jin,” ujar Iwan Prahara, kepada awak media, Sabtu, 30 November 2024.
“Jangan-jangan surat suara tidak sah itu, justru punya Hidayat Arsani-Hellyana,” tambah Iwan, kemudian.
Tuduhan sekaligus bangunan opini dengan merasa terzalimi kehilangan suara itu, menurut Iwan sudah merendahkan semua petugas KPPS yang terlibat dalam pilkada 2024 ini.
“Secara tidak langsung mereka sudah menuduh dan merendahkan kredibilitas petugas-petugas TPS ini, padahal saya yakin mereka semua orang-orang baik, yang peduli dan ingin ikut ambil bagian dari pagelaran pilkada ini. Mereka kerja dari pagi sampai ke pagi, kasihan kalau kemudian mereka dituduh curang,” ungkap Iwan.
Bahkan, lanjut Iwan, tuduhan itu juga mengerdilkan jerih payah pemantauan para saksi pasangan BERAMAL sendiri di TPS-TPS.
“Itu mereka di tiap TPS ada saksi loh. Kasihan saksi-saksi mereka yang sudah melotot satu per satu di tiap surat suara yang diperlihatkan petugas, malah jerih payah hasil kerjanya kayak dicibir,” ujar Iwan.
Tak cuma itu, atas tuduhan kepada petugas TPS itu, ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan oleh si penuduh.
“Tuduhan curang ini bukan main-main loh, ada konsekuensi hukumnya. Tunjukkan di TPS berapa, di desa dan kabupaten mana? Apa seluruh TPS se-Babel petugasnya curang semua?” tutur Iwan.
Iwan berharap, Erzaldi legawa atau menerima dengan lapang dada atas hasil pilkada ini. Dia pun meyakini Erzaldi bijak menyikapinya, karena rakyat sudah sangat jenuh melihat pertikaian elit, dua tahun ini rakyat hanya dijejali persaingan election belaka.
“Pemimpin-pemimpin saatnya merendahkan tensi politik, saatnya saling mendukung satu sama lainnya,” ujarnya. (*)













