Padapada.id, Pangkalpinang – Istilah berbahasa Khek berupa kata motito dan pajo kue yang terlontar dari komentar tertulis Mehoa di media sosial, mendapat pemakluman dari tokoh-tokoh muda dan senior Tionghoa di Pangkalpinang.
Sebelumnya, Mehoa menuliskan kalimat yang dianggap oleh beberapa pihak, menyinggung. “Harap maklum, thongin kite juga motito, mereka pajo kue,” demikian komentar Mehoa, dalam sebuah komentarnya di akun Tiktok, beberapa waktu lalu.
Ferry Bong, salah seorang tokoh pemuda Tionghoa Pangkalpinang mengatakan kalimat yang digunakan Mehoa itu, harus dipahami tujuannya hanya untuk lingkup internal saja. Tidak untuk umum.
“Itu kan dalam kontek internal kita, karena dia ada juga pakai kata ‘kite’, yang menegaskan itu kalangan internal, lingkaran dalam atau orang dalam,” ujar Ferry Bong, Selasa, 3 Desember 2024.
Karena itu, lanjut Ferry, para pihak luar, sebaiknya tidak ikut seolah tersinggung dengan kalimat itu.
“Kalau urusan orang dalam, ya menjadi perhatian orang dalam. Makanya, kami sebagai bagian pihak dalam atau internal, atau keluarga Tionghoa yang sehari-hari berbahasa Khek, ya tidak tersinggung. Itu masukan internal,” tegas dia.
Karena secara jelas dimaksudkan dari orang dalam untuk orang dalam juga, menurut Ferry Bong, maka penyelesaiannya memang hanya di kalangan internal.
“Karena ada pakai kata penyerta ‘kite’, itu ada batas pemisah yang jelas. Orang luar tidak elok kalau ikut campur apalagi mau memperkeruh. Offside itu namanya. Karena jelas batasannya, dari atau oleh kita, dan untuk kita juga,” kata Ferry.
Karena itu, di tengah suasana perekonomian Babel saat ini yang lagi tak menentu, Ferry mengajak para pihak untuk hidup rukun-rukun saja.
“Kita semua ini hidup damai. Kepada saudara-saudaraku, chingin-chingin kita maafkanlah kalau ada saudara kita dianggap salah kata. Hidup di Bangka ini mending kita damai-damai saja,” ujar dia.
Dukungan senada, disampaikan Lo Ting, salah satu tokoh senior Tionghoa Bangka. Dia mengatakan ucapan motito, pajo kue, merupakan kata sehari-hari orang Tionghoa Bangka, biasanya digunakan para orangtua.
“Itu bahasa kiasan. Dulu, orangtua saya pernah mengatakan ke saya, “ka ni motito, jam segini baru pulang“. Jadi, itu kalimat kasih sayang, jangan dipelintir,” ujar Lo Ting. (*)













