Politik

Selat Hormuz Terganggu, Bambang Patijaya Dukung Langkah Menteri ESDM Mitigasi Pasokan Migas Nasional

×

Selat Hormuz Terganggu, Bambang Patijaya Dukung Langkah Menteri ESDM Mitigasi Pasokan Migas Nasional

Sebarkan artikel ini
rpt

Padapada.id, Jakarta – Ketua Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Patijaya, menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia.

Langkah tersebut dinilai penting seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada jalur pelayaran energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Menurut Bambang, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut. Apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil dan LPG dari Arab Saudi. Ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi global.

“Kami mendukung langkah Menteri ESDM yang telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional. Dalam situasi geopolitik global yang dinamis, upaya antisipatif seperti ini sangat penting agar ketahanan energi Indonesia tetap terjaga,” ujar Bambang Patijaya dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat berspekulasi mengenai berapa lama potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung. Karena itu, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini.

Bambang menilai diversifikasi sumber pasokan energi menjadi salah satu opsi penting agar Indonesia memiliki fleksibilitas dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

“Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara lain yang secara geopolitik lebih stabil, termasuk dari Amerika Serikat maupun negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi lebih aman,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Bambang Patijaya menyampaikan bahwa stok crude oil nasional saat ini berada pada kisaran sekitar 21 hari dan masih dalam kondisi aman. Namun demikian, dinamika geopolitik global tetap menuntut pemerintah untuk melakukan langkah antisipatif agar pasokan energi bagi masyarakat dan sektor industri tetap terjaga.

“Stok saat ini memang masih aman, tetapi mitigasi tetap perlu disiapkan sejak dini. Ketahanan pasokan migas sangat penting karena menyangkut stabilitas ekonomi nasional serta kebutuhan energi masyarakat,” tutup legislator dari Daerah Pemilihan Bangka Belitung tersebut. (*)