Serba-serbi

Inflasi Terkendali dan Lebih Rendah dari Nasional, Babel Tunjukkan Daya Tahan Ekonomi 

×

Inflasi Terkendali dan Lebih Rendah dari Nasional, Babel Tunjukkan Daya Tahan Ekonomi 

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, Pangkalpinang – Di tengah bayang-bayang gejolak harga energi dunia dan ketegangan geopolitik, laju inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan ketenangan. April 2026 ditutup dengan inflasi yang tetap terkendali.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Bangka Belitung pada April 2026 tercatat sebesar 0,39 persen secara bulanan (mtm) dan 1,49 persen secara tahunan (yoy). Angka ini tidak hanya berada dalam kategori terkendali, tetapi juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen (yoy). Bahkan, Babel masuk sebagai daerah dengan inflasi tahunan terendah kedua secara nasional.

Meski demikian, bukan berarti tanpa tekanan. Secara bulanan, kenaikan harga dipicu oleh sektor transportasi, terutama lonjakan tarif angkutan udara. Hal ini tak lepas dari melonjaknya harga avtur hingga 70 persen sejak April 2026, imbas dari kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, harga komoditas pangan seperti sawi hijau turut terdongkrak karena faktor cuaca, serta jeruk yang mengalami peningkatan permintaan saat perayaan Ceng Beng.

Sementara secara tahunan, tekanan inflasi datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, khususnya harga emas perhiasan yang masih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan harga juga terjadi pada daging ayam ras dan cumi-cumi, meski masih dalam batas yang relatif terkendali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran nasional. Ia menekankan pentingnya sinergi antara Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam memastikan stabilitas harga, khususnya pada komoditas pangan strategis.

“Penguatan kolaborasi menjadi kunci agar masyarakat tetap bisa mengakses bahan pangan dengan harga terjangkau,” ujarnya, dalam siaran pers, Rabu, 6 April 2026.

Sejumlah langkah konkret pun telah digencarkan. Mulai dari pelaksanaan Operasi Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah sebanyak 49 kali di berbagai titik, sidak pasar oleh kepala daerah untuk memastikan ketersediaan stok, hingga pertemuan High Level Meeting (HLM) guna merumuskan kebijakan strategis pengendalian inflasi.

Tak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga terus diperluas, baik secara langsung maupun melalui kampanye publik, untuk mendorong pola konsumsi yang lebih bijak dan mengurangi pemborosan pangan. Upaya penguatan sektor produksi juga dilakukan, salah satunya melalui panen bawang merah di Gapoktan Pading Makmur, Bangka Tengah, yang menghasilkan sekitar 1 ton dari lahan seluas 1.000 meter persegi.

Rommy menegaskan, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi 4K pengendalian inflasi. Ke depan, tantangan inflasi masih akan ada, namun dengan Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS) antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, stabilitas harga diyakini tetap bisa dijaga.

“Yang terpenting, kita tidak lengah. Inflasi boleh rendah, tapi kewaspadaan harus tetap tinggi,” pungkasnya.(*)