Politik

Privilege Tak Selalu Menang, Bambang Patijaya Minta Anak Muda Fokus Membangun Kapasitas

×

Privilege Tak Selalu Menang, Bambang Patijaya Minta Anak Muda Fokus Membangun Kapasitas

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, BANGKA — Polemik mengenai praktik jalur orang dalam dan privilege dalam pengisian jabatan publik, termasuk semacam kursi komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kerap memunculkan rasa frustrasi di kalangan anak muda. Di tengah anggapan bahwa akses lebih menentukan daripada kemampuan, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya justru mengingatkan generasi muda agar tidak berhenti pada keluhan.

Pesan itu disampaikan Bambang Patijaya saat berdialog dengan peserta dalam sebuah kegiatan motivasi di Tanjung Pesona Resort, Sungailiat, Bangka, Sabtu, 4 Juli 2026. Pertanyaan datang dari seorang peserta yang menyinggung fenomena individu yang memperoleh posisi komisaris karena kedekatan dengan lingkar kekuasaan.

Alih-alih membantah adanya fenomena tersebut, Bambang Patijaya mengajak peserta melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Menurut dia, rasa iri terhadap orang yang memiliki akses tidak akan mengubah keadaan apabila tidak disertai usaha memperbesar kapasitas diri dan memperluas jejaring.

“Jangan iri kepada orang-orang yang punya akses. Karena bisa jadi Anda diam di tempat, enggak ngapa-ngapain, sibuk main games. Tetapi orang-orang itu lincah, ikut ini, ikut itu, sehingga terpantau, sehingga terdeteksi,” kata dia.

Bambang Patijaya menilai banyak anak muda sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi memilih bertahan di lingkungan yang sempit sehingga peluang untuk dikenal menjadi terbatas. Karena itu, Bambang Patijaya mendorong mereka keluar dari zona nyaman dan membangun relasi dengan berbagai komunitas maupun organisasi.

Menurut dia, pengalaman berorganisasi di kelompok lintas agama maupun lintas profesi dapat membuka ruang pertemuan dengan lebih banyak orang. Bambang menyebut organisasi seperti GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, hingga Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sebagai contoh wadah yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan.

Tokoh politik nasional asal Bangka Belitung ini juga mengkritik anggapan bahwa diskriminasi selalu menjadi penyebab tertutupnya kesempatan. Dalam pandangannya, prasangka semacam itu sering muncul karena minimnya interaksi dengan kelompok yang berbeda.

“Jangan komplain bilang kami didiskriminasilah. Coba introspeksi, misalkan kumpul dengan organisasi yang berbeda saja enggak pernah,” ujarnya.

Ia menambahkan, akses atau privilege bukan jaminan seseorang akan bertahan dalam sebuah jabatan. Menurut dia, kemampuan tetap menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang dapat mempertahankan posisinya.

“Kalau tidak capable, cepat atau lambat akan diganti,” ujarnya.

Sebagai jalan keluar, Bambang Patijaya meminta generasi muda lebih berfokus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, pengalaman, dan perluasan wawasan. Ia mencontohkan dirinya yang masih menempuh pendidikan doktoral di tengah aktivitas sebagai anggota DPR sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing.

“Saran saya jangan pusingi mereka. Tingkatkan kapasitas dirimu, perluas wawasanmu, pengetahuanmu, terutama dari jalur pendidikan,” kata dia.

Menutup pemaparannya, Bambang Patijaya mengatakan latar belakang bukan penghalang untuk bersaing di tingkat nasional. Menurut dia, peluang akan lebih mudah datang kepada mereka yang terus mengembangkan kemampuan, membangun jejaring, dan aktif mengambil kesempatan. (*)