Politik

Bambang Patijaya Ingatkan Hilirisasi LTJ Jangan Jadi Proyek, Waspadai China dan AS

×

Bambang Patijaya Ingatkan Hilirisasi LTJ Jangan Jadi Proyek, Waspadai China dan AS

Sebarkan artikel ini

Padapada.id, BANGKA – Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengingatkan pemerintah agar tidak keliru memilih teknologi dalam pengembangan industri Logam Tanah Jarang (LTJ). Menurut dia, keputusan yang salah akan membuat industri nasional kehilangan daya saing dan menanggung beban biaya tinggi dalam jangka panjang.

Peringatan itu disampaikan Bambang Patijaya saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya: Potensi, Regulasi, Ekstraksi, dan Teknologi Hilirisasi Menuju Industri Mineral Bernilai Tambah dan Berkelanjutan di Universitas Bangka Belitung, Kamis, 23 Juli 2026.

“Tolong jangan jadi proyek. Saya terbuka, jangan seperti kasus Ausmelt,” kata Bambang Patijaya.

Ia mencontohkan penggunaan teknologi Ausmelt yang menurutnya, membuat biaya peleburan timah mencapai US$ 2.300-3.500 per ton. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan teknologi electric furnace yang digunakan perusahaan swasta dengan biaya sekitar US$ 1.100-1.300 per ton.

Bambang Patijaya menilai pemilihan teknologi yang tidak efisien akan terus membebani industri nasional.

“Keputusan yang salah dalam teknologi akan membebani kita selamanya,” ujarnya.

Selain menyoroti aspek teknologi, Bambang Patijaya meminta pemerintah berhati-hati terhadap tawaran kerja sama pengolahan LTJ dari China. Menurut dia, Negeri Tirai Bambu sangat protektif terhadap penguasaan teknologi tanah jarang, mulai dari hulu hingga hilir.

“Kalau kita mau pakai teknologi China, kita ini dibohongi terus. Mereka akan buying time, tidak mungkin dikasih karena ini terkait kebijakan keamanan negara mereka,” ujarnya.

Legislator Senayan asal Dapil Bangka Belitung ini, mengingatkan Indonesia agar tidak bergantung pada janji alih teknologi yang belum tentu terealisasi.

Bambang Patijaya juga menyinggung hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat. Ia mengungkapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari lalu sempat meminta agar logam tanah jarang Indonesia dapat diakses Amerika.

Namun, menurut dia, kerja sama itu hanya akan menguntungkan Indonesia jika disertai transfer teknologi.

“Teknologinya mana? Kalau mereka tidak kasih teknologi, tidak ada guna juga,” ujarnya. Ia bahkan mempertanyakan apakah teknologi yang dimiliki Amerika masih menjadi yang paling mutakhir dibandingkan negara lain.

Di sisi lain, Bambang Patijaya mengapresiasi langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mulai mendorong hilirisasi logam tanah jarang ke tahap implementasi melalui pembentukan Badan Industri Mineral dan penguatan peran PERMINAS.

Meski demikian, ia mengingatkan seluruh kebijakan harus didasarkan pada data cadangan yang tervalidasi. Menurut dia, klaim potensi yang hanya bersifat hipotetik berisiko melahirkan keputusan investasi yang keliru.(*)